Mahatma Gandhi

"You may never know what results come of your action, but if you do nothing there will be no result"    

Tampilkan postingan dengan label Just Story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Just Story. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 Februari 2011

Tabu

"Namanya siapa ?..".
"Ata.." (Athar).
"Umurnya berapa tahun ?..".
"Uwa ayun .." (dua tahun).
"Nama Papanya siapa ?..".
"Papa Ajus.." (Agus).
"Nama Mamanya siapa ?..".
"Mama Pippi..".
"Rumahnya dimana ?..".
"Yamyajang.." (Lamlagang).

Demikian percakapan Athar dengan salah seorang kerabat, sore ini kami sedang ngumpul dirumah Mama karena ada pengajian dan arisan keluarga. Mendengar percakapan tadi salah seorang kerabat berujar,
"Waaah..anak-anak sekarang hebat-hebat ya, pintar-pintar, masih kecil uda tau nama orang tuanya, waktu jaman tante dulu jangankan nama orang tua nama sendiri aja nggak tau.." ujarnya sambil tersenyum simpul.
"Iya...waktu jaman kita dulu kan tabu nyebut-nyebut nama orang tua, pamali katanya.." sahut kerabat yang lainnya.
"Kenapa tabu tante ?" tanya salah seorang sepupu saya.
"Ndak tau tuh..pokoknya tabu aja..jadi kita-kita dulu ndak pernah diberitahu siapa nama orang tua kita, baru taunya ya setelah pintar membaca.." jawab kerabat yang lainnya lagi.
"Dulu yang tau nama orang tuanya biasa anak nakal.." kata seorang nenek.
"Lha koq gitu ?" tanya saya penasaran.
"Iya..kalau nggak nakal dari mana juga dia bisa tau kalau bukan dari mencuri dengar kata-kata orang tua, sedangkan jaman dulu anak-anak pantang dekat-dekat orang tua kalau orang tua lagi bicara serius.." jawab si nenek dengan bersemangat, nggak nyambung banget penjelasan si nenek, pikir saya.
"Ah...masak segitu-gitunya banget sih ?.." tanya saya penasaran.
"Iya..bener..kamu sih hidup di jaman serba terbuka jadi ndak bisa membayangkannya, waktu kami dulu banyak banget pantangan dan larangannya.." kata salah seorang Uwak.
"Kalau dulu antara orang tua dan anak kan ndak bisa ngobrol bebas kaya sekarang ini, seperti terhijab, jadinya banyak hal-hal yang ndak bisa dengan bebas ditanyakan atau diceritakan, mungkin kalau dipikir-pikir sekarang, bukannya tabu nyebut nama orang tua, tapi anak segan untuk tanya siapa nama orang tuanya, atau ndak kepikiran untuk nanya siapa nama orang tuanya, pokoknya pasrah aja dengan kehendak orang tua, ndak kaya' anak-anak sekarang banyak debatnya, faktor gizi juga mungkin.." kata yang lainnya lagi sambil tertawa geli.
"Dulu nama orang tua itu kerap dijadikan bahan ejekan.." kata Mama.
"Aaah...sama aja sekarang juga gitu, kalau namanya aneh aja dikit uda deh jadi bahan, nama Suparman bisa jadi Superman.." kata salah seorang sepupu.
"Bedaaa..kalau sekarang nama yang ada dipleset-plesetin, kalau dulu enggak, kalau nama bapaknya Suparman ya setiap anaknya lewat pasti dipanggil-panggil Suparman, herannya si anak ngamuknya bisa kaya banteng ngelihat sapu tangan merah, kalau dipikir-pikir entah kenapa juga harus ngamuk-ngamuk kaya gitu.." tambah Mama menjelaskan.
"Dulu Om kalian pernah babak belur berantem ama temen-temen sekolahnya dulu, gara-gara dipanggil dengan nama Kakek, padahal nama yang disebutkan uda benar nggak dipeleset-pelesetkan, tapi tetap aja si Om ngamuk.." kata Mama menambahkan.
"Mungkin cara panggilnya aja yang salah, mungkin nadanya kedengaran seperti ngenyek.." kata saya.
"Ya kalau nadanya ngenyek ya uda pasti memang itu tujuannya untuk mengejek, cuma herannya kenapa juga harus marah.." kata Mama. 
"Ya seperti itu lah waktu dulu, karena dianggap sakral, jadi tabu banget nyebut-nyebut nama orang tua, kalau disebut, waaah..rasanya seperti sudah melakukan perbuatan yang bejaaat banget..apalagi untuk diejek.." tambah tante saya.

Mendengar penjelasan beberapa kerabat tadi saya jadi ingat cerita Mama tentang salah seorang adik perempuannya yang sekarang berada di Makassar, yang biasanya saya panggil Acik, nah ceritanya waktu itu si Acik baru berusia sekitar 6 tahunan, ketika dia sedang bermain di lapangan bersama teman-temannya dia melihat seseorang yang ia duga adalah ayahnya sedang mengendarai sepeda, mengira kalau itu adalah Ayahnya, Acik segera berlari mengejarnya sambil berteriak-teriak memanggil ayahnya tersebut, dia terus berlari mengejarnya sampai orang itu berhenti di sebuah bioskop yang jaraknya kira-kira 1 Km dari lapangan tadi, begitu orang itu berbalik badan ternyata bukan ayahnya, sontak donk si Acik yang uda kecapean kecewa berat menyadari hal tersebut, sebagaimana reaksi spontan seorang anak bila dalam keadaan cape dan kecewa, maka Acik pun mulai menangis menjerit-jerit hingga akhirnya dikerubungi orang banyak, beberapa orang mencoba menanyakan identitas Acik,
"Namanya siapa ?.." 
"Adek.." (karena biasa dirumah dipanggil Adek)
"Ayahnya namanya siapa ?.."
"Bapak.."
"Ibunya namanya siapa ?.."
"Mamak.." 
"Tinggalnya dimana ?.."
"Di rumah..".
Hahahahahaha....nggak kebayang betapa pusingnya orang-orang yang mendengar jawaban Acik tadi, syukur jaman dulu orangnya masih pada baik-baik, mau bersusah payah mencari rumah dan orang tua Acik, kalau jaman sekarang, waaaahh...nggak bisa bayangin.



Rabu, 09 Februari 2011

Horror

Waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 WIB dini hari, pemandangan dari balik kaca mobil tidak terlihat jelas diakibatkan hujan yang turun dengan deras, sesekali terdengar guntur bergemuruh diudara dan cahaya kilat sambar menyambar laksana pedang membelah langit yang hitam pekat. Didepan saya lihat Adril, adik laki-laki saya, sedang konsentrasi penuh mengemudikan mobil, karena cuaca yang sangat buruk jarak pandang kedepanpun menjadi sangat terbatas sehingga mengharuskan dia untuk berhati-hati dalam menyetir. Disampingnya saya lihat Papa menguap menahan kantuk, saya tahu Papa berusaha untuk tidak tidur karena Papa takut bila Ia tidur maka Adril yang hobi ngebut akan tancap gas tanpa mempedulikan keselamatan penumpang. Disebelah saya yang sudah tidur lelap sejak tadi dengan kepala yang sesekali terantuk-antuk kaca mobil adalah suami saya, dipangkuannya ada Agung yang sejak mobil hidup sudah masuk ke alam mimpi. Dibelakang ada Mama, dengan Athar yang sudah tertidur dipangkuannya, dan Kiki, adik perempuan saya, tadinya mereka berdua asyik ngobrol, entah mengapa sekarang diam, mungkin sudah kehabisan bahan obrolan.

Saat ini kami berada didaerah gunung Seulawah dalam perjalanan dari Medan menuju Banda Aceh, disekililing saya lihat gelap bercampur asap putih kabut menutup penglihatan membuat mata seperti menderita miopi, godaan bagi supir untuk memejamkan mata. Dikiri-kanan hutan pinus yang lebat, biasanya kita bisa melihat pepohonan yang tinggi menjulang menutupi angkasa bila perjalanan dilakukan ketika hari terang benderang, namun kini karena matahari telah beristirahat ke peraduannya disertai hujan, yang sedari kami memasuki areal gunung Seulawah ini tidak mennunjukkan tanda-tanda ingin reda, maka yang terlihat adalah representasi dari ketidakhadiran warna atau cahaya alias gelap.

Mengingat kami berangkat dari Medan pukul 08.00 WIB tadi pagi, seharusnya sekitar pukul 20.00 WIB kami sudah tiba di Banda Aceh, tapi bukanlah kami bila perjalanan tidak disertai dengan wisata kuliner. Rentang jarak dari Medan ke Banda Aceh selama 12 jam melewati  + 6 kabupaten yang terdiri dari beberapa kecamatan dan daerah-daerah yang patut diujicoba makanan setempatnya, membuat jarak tempuh perjalanan jadi hampir 24 jam (???).

Dari dulu saya sekeluarga senang travelling dan wisata kuliner, sepanjang perjalanan kami tidak pernah tidur walaupun perjalanan dilakukan pada malam hari, tidak seperti suami saya yang begitu mobil dihidupkan langsung molor, kami seperti tidak pernah kehabisan bahan pembicaraan selalu saja ada topik asik untuk dibahas terkadang disertai joke-joke dan diakhiri dengan saling mencela. Tapi malam ini entah mengapa begitu masuk kekawasan gunung Seulawah lidah kami seperti kelu, otak kami beku hingga tidak mampu memikirkan hal-hal menarik untuk dibicarakan.

Gunung Seulawah adalah sebuah gunung yang terletak di kecamatan Seulimum Kabupaten Aceh Besar Propinsi Aceh, gunung berapi yang termasuk tipe A di propinsi paling ujung barat Indonesia ini menjadi jalan lintas Banda Aceh - Medan. Kurang lebih sekitar 2 jam lagi kami sampai ke rumah, atau sekitar 70 Km lagi menuju Banda Aceh. Karena jalan yang berkelok-kelok dengan beberapa tikungan patah, dimana jurang menganga sudah menanti supir-supir yang ceroboh masuk ke perutnya, gunung Seulawah menjadi daerah rawan terjadinya kecelakaan, banyak tabrakan yang yang berujung dengan kematian korban. Ketika jaman penjajahan Belanda dulu, gunung Seulawah yang kala itu juga menjadi daerah lintasan kereta api, pernah menjadi saksi bisu pejuang-pejuang Aceh yang gigih mengusir penjajah dari bumi serambi mekah ini, banyak pertumpahan darah terjadi disini, bahkan peristiwa pensabotasean kereta api kerap terjadi disini, kawasan hutan yang lebat memudahkan gerilyawan untuk melarikan diri dan bersembunyi, bahkan ketika masa konflik dulu, saat-saat dimana Aceh bergejolak, sering ditemukan mayat-mayat yang dibuang ke jurang oleh orang tak dikenal (OTK). Karena hal-hal itu lah label gunung Seulawah yang angker melekat hingga sekarang.

Diluar masih pekat hening kian meraja, setiap kali saya melirik keluar yang tampak hanyalah pantulan wajah saya yang tercemin melalui kaca jendela mobil. Saya teringat akan beberapa cerita tentang korban-korban yang selamat dari tragedi lalu lintas di gunung Seulawah ini, banyak supir yang mengatakan bahwa setiap masuk keareal gunung Seulawah ini mata mulai terasa berat, mengantuk, tidak peduli walaupun itu disiang hari, selain itu hampir setiap peristiwa tabrakan disebabkan oleh supir yang berusaha menghindar dari seseorang yang tiba-tiba menyeberang jalan dan karena kaget biasanya supir malah banting stiur kearah jurang, tragis, sampai saat ini tidak ada seorangpun yang bisa menjelaskan siapa sosok makhluk yang iseng banget mondar-mandir nyebrang jalan setiap ada kendaraan lewat, padahal jelas sekali dikanan-kiri jalan tidak ada mall, pertokoan, warung apalagi perumahan.

Saya bergidik mengingat foto-foto tragis korban yang sering terpampang di koran-koran harian lokal, saya miris membayangkan betapa awalnya mereka juga mungkin seperti kami sedang melakukan perjalanan, dalam keadaan bahagia dan tidak menyangka bahwa mereka akan menjadi salah satu kegananasan lalu lintas gunung Seulawah,
"Uda mau nyampe jembatan Seunapet nih..." kata Adril memecah kesunyian.
Jembatan Seunapet adalah jembatan kembar yang berada di kecamatan Lembah Seulawah, 65 Km dari Banda Aceh, sebelum menuju jembatan yang terkenal angker ini kita akan bertemu terlebih dahulu dengan 2 tikungan tajam yang menurun, bila tidak hati-hati maka jurang yang dalam telah siaga menyambut kita. Ketika konflik dulu dibawah jembatan ini lah sering ditemukan mayat-mayat yang dibuang oleh OTK, dan lebih dari ratusan kali kecelakaan lalu lintas berlokasi disini dan banyak korban yang meregang nyawa dijurang tersebut.

Tiba-tiba dari jauh sinar lampu mobil menyorot seonggok yang saya duga adalah kepala berada tepat dipinggir bangunan jembatan, Seeeerrrrrrrrrrr...darah saya seperti berlomba-lomba lari dari wajah saya untuk bersembunyi dibalik jantung yang mengakibatkan wajah saya pucat dan jantung berdebar lebih kencang dari biasanya, saya tak sanggup bergerak apalagi berkata-kata, mata saya melotot melihat sosok tersebut, saya tidak tahu apakah yang lain melihat pemandangan yang sama seperti yang saya lihat, saya terpaku tak sanggup melakukan aksi apapun, saya membatin bila cuma saya yang melihatnya berarti ini penampakan.
"Eh...itu apa..." tanya Adril yang rupanya juga melihat hal yang sama seperti saya, saya lega ternyata dia juga melihatnya.
"Mana ?..." tanya Kiki.
"Itu disana, di jembatan..." jawab Adril.
"Oh iya...apa tu ya ? monyet atau babi hutan ya ? atau jangan-jangan harimau..." kata Mama, disini memang masih banyak terdapat satwa-satwa liar, mobil terus melaju hingga kira-kira tinggal 50 meter lagi menuju jembatan, sosok itu berdiri, kami semua terdiam mencoba membuka mata selebar-lebarnya agar dapat melihat jelas.
"Oooh...cuma nenek-nenek...kirain siapa, rupanya tadi lagi jongkok..." kata Papa ketika mobil telah melewati objek tersebut.
Hhhfffffff.....aku bernafas lega, rupanya cuma orang lagi jongkok, pantesan dari jauh kelihatan aneh, memang benar kegelapan suka menipu mata, pikir saya.
"Tapi ngapain juga nenek-nenek itu malam-malam disitu, mana hujan lebat kaya gini..." teriak saya panik sambil melihat lagi kebelakang.
Siiiiiiiiiiiiiiiiiingggggg................ketika saya melihat kebelakang nenek itu telah hilang dari pandangan, belum lagi saya sempat memberitahukannya kepada yang lain tiba-tiba kaca jendela mobil disebelah saya ada yang mengetuk-ngetuk, ketika saya berpaling,
"Jangan ngebut-ngebut...jangan ngebut-ngebut..." kata nenek tadi sambil tersenyum, tubuhnya seperti melayang sejajar dengan saya mengikuti lajunya mobil,
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA......!!!!!!!!!!!!!!!
HAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNTTTTTTTTTTUUUUUUUUUUUUUUUUUU......!!!!!!!"
Teriak saya panik, tapi nenek itu tidak pergi tetap melayang disamping kaca mobil saya sambil tersenyum dan mengatakan,
"Jangan ngebut-ngebut...jangan ngebut-ngebut..."
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
"Dek...Dek...Dek...bangun...bangun..." kata suami saya sambil mengguncang-guncang tubuh saya, saya tersentak, gelagapan seperti orang tenggelam kesulitan mendapatkan oksigen, saya lihat sekeliling saya Alhamdulillah...ternyata saya mimpi, sekarang saya ada dirumah, diatas tempat tidur saya yang nyaman.
"Mimpi apa sih Dek ? koq ampe jerit-jerit gitu ?" tanya suami saya.
"Mimpi hantu Bang...Sereeeeem banget..." kata saya terbata-bata.
"Makanya kalau tidur cuci kaki dulu, baca doa biar gak mimpi macam-macam..." kata suami saya sambil menyerahkan segelas air untuk saya minum.
"Cuci kali dulu sana gih..." katanya lagi.
"Nggak ah...takut..."
"Ya ampun...kalah Agung...ya uda sana cuci kaki biar Abang temenin..."
Walaupun menurut saya tidak ada hubungannya antara tidak cuci kaki sebelum tidur dengan mimpi buruk, tapi anjurannya saya iyakan karena saya kebelet pipis.
"Tapi temenin ya..." pinta saya.
"Iya..." jawabnya
"Janji ya jangan ditinggal...trus jangan nakut-nakutin...jangan mati-matiin lampu..." karena saya ingat suami saya paling iseng, janjinya temenin tapi begitu saya tutup pintui toilet dia sembunyi untuk ngagetin atau malah balik ke kamar untuk tidur, kadang juga dia suka jahil matiin lampu dan baru dihidupkan bila saya sudah berteriak-teriak.
"Iya..iya..." sahutnya sambil tersenyum geli.
 Ketika saya sedang pipis tiba-tiba lampu mati,
"Baaaaang..." jerit saya, tapi tidak ada jawaban, saya lihat dari jendela kaca toilet lampu diluarpun mati, ooh...berarti bener-bener mati lampu, pikir saya sambil buru-buru cuci kaki dan bergegas keluar, karena mati lampu semuanya menjadi gelap.
"Baaaaang..." panggil saya sambil meraba-raba dan berjalan balik ke kamar, Uuuuhhh...dasar...ditinggal lagi saya, batin saya sambil bergegas jalan menabrak sana-sini, tiba-tiba tengkuk saya seperti ada yang niup.
"Baaaang...jangan becanda ah..." kata saya sambil berbalik badan mencoba menangkapnya, tapi tidak ada orang disana, tiba-tiba Teeeeep...lampu hidup, saya lihat sekeliling, memang suami saya tidak ada disana, saya segera lari masuk kamar.

 Didalam kamar saya lihat suami saya sudah bergulung didalam selimut dengan nyamannya, Hhuuhhh...dasar...pikir saya sambil menyingkap selimutnya, tapi saya tersentak kaget ternyata orang yang berada didalam selimut bukanlah suami saya melainkan nenek-nenek yang ada dalam mimpi saya tadi,
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA......!!!!!!!!!!!!!!!!!
HAAAAAAAAAAANNNNNNNNNNTTTTTTTTTTUUUUUUUUUUUUUUUUUU......!!!!!!!!"
AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA
"Dek...Dek...Dek...bangun...bangun..." kata suami saya sambil mengguncang-guncang tubuh saya, saya tersentak, gelagapan seperti orang tenggelam kesulitan mendapatkan oksigen, saya lihat sekeliling saya Alhamdulillah...ternyata saya mimpi, sekarang saya ada dirumah, diatas tempat tidur saya yang nyaman.
"Mimpi apa sih Dek ? koq ampe jerit-jerit gitu ?" tanya suami saya.
"Mimpi hantu Bang...Sereeeeem banget..." kata saya terbata-bata.
"Makanya kalau tidur cuci kaki dulu, baca doa biar gak mimpi macam-macam..." kata suami saya sambil menyerahkan segelas air untuk saya minum.
"Cuci kali dulu sana gih..." katanya lagi.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA....TIIIDAAAAAAAAAAAAAAAAKKKKK.......!!!!!!

Kamis, 27 Januari 2011

Meri Oh...Meri

"Bu...pamit ya, Meri mau kepersuratan dulu ngambil nomor surat ini..."
"Iya Mer.."
Ini anak sopannya minta ampun daaah...sejak pertama saya bertugas dikantor ini, nama Meri selalu berkumandang dimana-mana, hampir semua orang disini kenal dia. Meri anak yang sangat sopan dan santun tingkah lakunya sesuai dengan tuntunan dalam buku-buku budi pekerti pelajaran waktu SMP dulu, tutur bahasanya selalu halus, baik kepada orang yang lebih tua maupun muda, gerak-geriknya selalu tertib dan mencerminkan seorang anak yang dididik dengan baik dirumah dan sekolah, yang pasti orang tua dan gurunya pasti bangga pernah ambil bagian dalam mengajarkan hal-hal positif kepadanya. Setiap dimintai tolong untuk mengerjakan apa saja dia pasti bersedia, kadang saya kasihan juga melihatnya, semua perintah berusaha dilaksanakannya dengan sempurna, padahal sebagai manusia biasa tentunya ia punya keterbatasan juga kan.
Bagi sebahagian orang yang aji mumpung sifat baiknya Meri ini sering kali 'disalahgunakan', sering saya lihat Meri dimintai tolong untuk mengerjakan tugas-tugas yang sama sekali bukan bagian dari job descriptionnya, namun seperti biasa setiap disuruh jawabannya selalu "Siap Pak / Bu..."
Meri teramat sangat mencintai pekerjaannya, ia berdedikasi tinggi dan sepertinya siap mempertaruhkan jiwa raga demi suksesnya pekerjaan di kantor terutama bidang kami, kerap kali saya lihat aksesoris-aksesoris didalam ruangan kami berubah-ubah atas inisiatifnya, seperti bunga di vas, pengharum ruangan, dsb. Sering (tanpa disuruh) bila tissue atau permen diatas meja habis keesokan harinya langsung terisi lagi, bahkan kalau kita lupa meninggalkan duit di laci meja kantor untuk membeli tissue dan permen tadi pasti tanpa ragu dia beli dengan menggunakan uangnya sendiri dan tanpa ada niat untuk minta ganti.
Saya angkat jempol untuk sifat setia kawannya dengan rekan kerja dan loyalnya terhadap pimpinan, saya salut dengan semangat dan etos kerjanya, saya juga angkat topi dengan kejujurannya, setiap dimintai tolong membeli sesuatu, uang kembaliannya selalu diberikan walaupun cuma Rp.50,- padahal setiap dia kembalikan pasti uang tersebut kami berikan untuk dia tapi dia tetap tidak pernah mau mengantongi kembalian itu tanpa izin dari sang pemilik, gak seperti para koruptor (kata Kaka Slank), mudah-mudahan hal ini bisa dipertahankan sampai dengan pensiun nanti ya Mer. Walaupun banyak yang mengingatkan bahwa ia terlalu lugu / naif, dan lebih banyak lagi yang mengajarkan aliran sesat kepadanya tapi Meri tetaplah Meri, paling ia hanya tersenyum simpul dan sekali lagi menjawab "Siap Pak / Bu...".
Mungkin saya termasuk orang yang suka aji mumpung mengandalkan kebaikan Meri, mungkin saya orang yang paling sering minta bantuan Meri, tapi sekali lagi Meri tetaplah Meri, ia tidak pernah kapok bila saya mintai tolong atau saya recoki dengan tugas-tugas, jawabannya tetap "Siap Bu..."
Pernah pada suatu pagi ketika saya akan pergi ke Bank saya bilang begini
"Mer...kalau si Bos cari tolong bilang saya pergi ke Bank ya.."
"Siap Bu..."
Saya masih ingat sekali hari itu adalah hari Kamis diawal bulan, jadi Bank sedang ramai-ramainya dikunjungi nasabah, ketika semua urusan di Bank selesai tidak terasa waktu sudah menunjukkan sekitar pukul 2 siang, sekembalinya saya dari Bank saya lihat Meri masih duduk diruangan, iseng saya tanya
"sudah makan siang Mer ?"
"belum Bu.."
"lho kenapa ? Meri puasa ya ?" (karena seingat saya dia rajin puasa sunnah senin-kamis)
"Nggak Bu..hari ni gak puasa.."
"Jadi kenapa gak makan ?"
"Dari tadi gak ada orang di ruangan Bu, dan si Bos pun belum masuk tanya Ibu, saya takut kalau saya ke kantin nanti si Bos masuk ke ruangan kita.."
"Ya ampuuuun Meeerrr...jadi dari tadi kamu diruangan terus? jangan-jangan sarapan pun kamu belum ya?"
"iya Bu..." jawabnya malu-malu..
"Ya Ampuuun...kan gak mesti gitu-gitu banget Mer..Kamu kan bisa keluar sebentar dan lapor ama sekretarisnya Bapak, atau kamu bisa delivery order ke kantin..."
"Oh..iya..ya..Bu..koq saya gak kepikiran.."
"Ya uda pegi sana makan & istirahat, jangan sampe kamu sakit gara-gara saya, jarang-jarang ada orang kaya kamu disini"
"Siap...Bu.." 
Seperti itulah Meri, bila diperintahkan sesuatu dia akan melaksanakannya dengan sempurna tanpa memperhatikan kepentingan dirinya sendiri, dan dia tidak pernah jera disuruh-suruh walaupun sering berakhir sial seperti contoh diatas tadi. Pernah ketika saya sedang mengandung anak yang ke-3 tiba-tiba saya ingin sekali es dawet, dan biasanya si penjual suka jualan di halaman RS yang berjarak + 50m dari kantor kami yang lama, maka seperti biasa sekali lagi kebaikan Meri saya manfaatkan,
"Mer saya pengeeeen banget es dawet, bisa gak tolong kamu belikan ditempat biasanya ?"
"Siap Bu..." jawabnya mantap seperti biasa untuk kemudian bergegas pergi ketempat yang dimaksud dengan mengendarai motornya, kira-kira 15 menit setelah Meri pergi, hujan turun dengan lebat disertai dentuman guruh dan kilat yang saling sambar menyambar, waduuuh...harus telepon Meri ni untuk bilang supaya jangan balik dulu kalau hujan lebat, karena saya yakin Meri pasti akan berani menerobos hujan lebat demi terlaksananya tugas yang diberikan kepadanya, ketika saya hubungi Meri ke nomor handphone (hp) nya sayup-sayup terdengar nada suara hp Meri dari dalam laci meja kerjanya, ya ampuuun...Meri lupa bawa hp pikir saya, ya sudah saya hanya bisa berharap semoga kali ini Meri tidak terlalu semangat dalam melaksanakan perintah. 1 jam kemudian setelah kepergiannya hujan turun semakin deras tapi Meri belum kembali juga, syukurlah...berarti kali ini Meri tidak nekat...batin saya.
Diluar hujan turun semakin deras walaupun tidak terdengar dan terlihat lagi perang guntur dan kilat di langit, 3 jam sudah berlalu sejak kepergian Meri belum ada tanda-tanda kehadirannya, tiba-tiba pintu ruangan kami terbuka dan Meri masuk dalam keadaan basah kuyup dengan tubuh menggigil kedinginan dan es dawet ditangannya
"Ya ampuuun Mer...ngapain dipaksakan sih ? harusnya kamu kembali setelah hujan reda saja, jangan hujan-hujanan seperti ini..."
"Maaf ya Bu...kelamaan, tadi yang jual gak ada jualan ditempat biasanya..."
"Lha...ini dari mana kamu beli ?"
"Meri keliling-keliling Banda Aceh Bu dan akhirnya dapat didepan terminal bus antar propinsi..."
"Haaaaaa....Jadi kamu hujan-hujannan hanya untuk mendapatkan sebungkus es dawet ini ? Ya ampun Meeer...seharusnya kalau ditempat biasa gak dapet kamu langsung balik aja kemari, saya gak pa-pa koq...kalau seperti ini saya kan jadi nggak enak..."
"Ahhh....nggak pa-pa koq Bu...Meri senang main hujan, lagian kata nenek saya kalau ngidamnya orang hamil nggak dituruti nti bisa-bisa anaknya ileran lho Bu..." jawab Meri sambil menggigil kedinginan....
Speechless.....
Tapi gara-gara Meri ini rumah tangga saya pernah nyaris perang lho, saya pernah cemburu berat dengan Meri, kejadiannya kira-kira pertengahan tahun 2008 dimana pada saat itu suami saya telah dimutasikan ke kantor pusat di Banda Aceh, sedangkan saya masih di Lhokseumawe. Diawal suami saya mulai bertugas di Banda Aceh nama Meri selalu disebut-sebut setiap kali saya menelpon suami saya baik pagi, siang , sore maupun malam hari,
"lagi dimana ini Pa...?"
"lagi di kantor dengan Meri..."
............................................
"lagi ngapain Pa...?"
"lagi makan dengan Meri..."
............................................
"Uda selesai ngantornya Pa ?"
"Uda ini lagi hangout di cafe dengan Meri..."
.............................................
"Uda nyampe ke rumah Pa..?"
"Uda..ini lagi nonton tv dengan Meri.."
................................................
Setiap ditelepon selalu ada Meri...Meri...Meri...dan Meri lagi...kalau tidak sedang bersama Meri pasti ceritanya selalu tentang Meri dan memuja-muji Meri, yang Meri anak baiklah...anak yang rajin...cekatan...pintar...dsb...dsb...yang bikin saya lama-lama jadi bertanya-tanya, siapakah Meri ini ?
Koq dari kemarin Meri...Meri melulu sih...? saya mulai cemburu....semua makhluk ciptaan Tuhan diseluruh jagat raya ini tahu kalau saya paling gengsian untuk mengungkapkan perasaan cemburu saya, saya tidak mau dan tidak pernah mau seorangpun mengetahui kalau saya sedang cemburu berat.
Puncak dari cemburu saya adalah ketika pada suatu hari saya telepon suami saya yang saat itu sedang sibuk-sibuknya menyambut tamu dari pusat, karena mengetahui suami saya sedang sibuk saya sengaja baru menelpon suami saya sekitar pukul 23.00 WIB dengan pertimbangan pasti acara sudah selesai, ketika saya telepon lamaaaa sekali baru dijawab, itupun dengan berbisik-bisik
"Uda dulu ya Ma...Papa masih sibuk di hotel dengan Meri, nanti Papa telepon lagi..." tuuuuuuut...telepon langsung ditutupnya. Seeerrrrrrrrrrr...darah saya langsung naik ke kepala semuanya, malam-malam...dihotel...dengan Meri...!!!!! Oh tidaaak...tapi saya berusaha untuk tetap tenang, positive thinking, ujar saya dalam hati...mungkin masih ada acara dengan tamu, mungkin acaranya di hotel, dan mungkin Meri dan suami saya kebagian tugas menyambut tamu, batin saya sambil sebentar-sebentar melirik ke hp berharap telepon balik dari suami saya, namun sampai pagi suami saya tidak menelepon juga, mungkin lupa...pikir saya, ya uda biar saya aja yang telepon duluan, inisiatif saya sambil mencoba menepis jauh-jauh rasa cemburu saya. Ketika saya telepon lama baru diangkat, mungkin karena rasa cemburu yang sudah memuncak begitu mendengar suara suami saya, langsung ia saya hujani dengan banyak pertanyaan
"Papa dimana ni ? Lagi ngapain ? ama siapa ? kenapa tadi malam gak balik nelpon, Mama tungguin ampe pagi !"
"Sorry tadi malam Papa kecapean jadi lupa telepon balik, sekarang Papa sama Meri lagi di bandara ngantar rombongan  tamu"
"Haaaaa...Meri lagi...Meri lagi...koq Meri..Meri terus sih..emangnya dia siapa koq bareng Papa terus ?" jerit saya melupakan rasa gengsi saya
"Mama...apaan sih jerit-jerit gitu..nti deh Papa jelasin kalau Mama uda ada disini, uda dulu ya, Papa dipanggil si Bos.." kata suami saya sambil, seperti biasa lagi, menutup telepon.
Ini tidak bisa dibiarkan, hari ini juga saya harus ke Banda Aceh minta penjelasan dari suami saya, maka segera saya SMS suami saya untuk memberitahukan bahwa hari ini juga saya mau berangkat ke Banda Aceh, namun tiba-tiba suami saya telepon
"Ngapain Mama berangkat sekarang, sama siapa Mama mau berangkat, minggu depan aja Papa jemput sekalian pamit, ini surat mutasi Mama uda keluar..." katanya panik
Hhhffff, benar juga, pikir saya, mana mungkin saya berangkat dalam keadaan hamil besar dengan membawa seorang anak kecil tanpa didampingi siapapun, ok kali ini saya mengalah...
Minggu depan ketika suami saya datang untuk menjemput kami, saya sangat menahan-nahan perasaan saya untuk bertanya-tanya tentang Meri, gengsi, saya gengsi untuk bertanya, saya mau suami saya sendiri yang menjelaskan tanpa perlu ditanyakan, tapi sampai dengan setibanya kami di Banda Aceh suami saya tetap bungkam.
Sampai akhirnya pada hari pertama saya mulai berkerja di kantor Banda Aceh, suami saya memperkenalkan saya pada seseorang
"Ma...ini lho Meri yang selama ini Papa ceritakan..." katanya sambil tersenyum simpul.
"Kenalkan Bu...nama saya Meriady...biasa dipanggil Meri..."
"Oalaaah.....ini toh yang namanya Meri ? kenapa gak dipanggil Adi aja sih Mer ? saya pikir kamu itu perempuan..."