Mahatma Gandhi

"You may never know what results come of your action, but if you do nothing there will be no result"    

Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 31 Januari 2012

Self Esteem Kakek Penjual Tahu

Kemarin malam kira-kira setelah maghriban saya dan suami ke pasar Peunayong Banda Aceh untuk belanja kebutuhan dapur, sudah telat sih, tapi ya maklum saja kami baru bisa keluar dari kantor menjelang Maghrib jadi baru malamnya sempat berbelanja. Setelah semua kebutuhan telah didapatkan kami berniat untuk segera pulang, tapi suami malah belok kearah lain untuk mencari buah salak, buah wajib yang selalu ada dirumah, disanalah saya melihat si Kakek, duduk termangu didepan dagangannya, sebenarnya bukan baru kali ini saja saya melihatnya, pertama sekali saya ngeh akan keberadaannya adalah ketika bulan puasa tahun lalu, saat itu ditengah teriknya matahari ia duduk tersengal-sengal menunggui dagangannya, pertama kali melihatnya saya pengen nangis, saya kangen Alm. Kakek, sekilas penampilannya mirip dengan Kakek saya, mengenakan kemeja lengan panjang yang dimasukkan dengan rapi ke dalam celana kain tanpa lipitannya, ada sebuah jam ditangan kirinya, memakai sepatu kulit lengkap dengan kaos kakinya, persis seperti penampilan Alm. Kakek saya dulu, tutur katanya halus dan santun, bila berbicara agak tersengal-sengal mungkin karena asma atau lanjutnya usia, seperti kakek saya. Saya tebak usianya menjelang 70-an atau mungkin sudah 70-an lebih, rambutnya yang penuh uban disisir belah samping, rapi, persis Kakek saya, bedanya kalau Kakek saya penggemar berat topi stetson, sehingga kemana-mana selalu mengenakan topi ala koboi itu.

Sejak pertama melihatnya saya jatuh iba, dibenak saya koq sudah setua itu masih jualan, anak-anaknya pada kemana, seharusnya diusianya Ia sudah bisa duduk tenang dirumah bukan diluar rumah bersusah payah mencari nafkah. Setiap melihatnya saya selalu membeli tahu yang dijualnya, padahal saya lagi gak butuh tahu, pertama kali melihatnya dulu saya sempat berniat memberikannya sejumlah uang, tapi saya takut dia akan tersinggung, saya urungkan niat saya saat itu. Tapi tadi malam saya benar-benar kasihan melihatnya. saya lihat ember tahunya masih penuh, belum ada 1/4 pun laku terjual, ingin rasanya saya borong tahu-tahunya itu, tapi mau dibawa kemana. Ketika saya hampiri dia sedang termangu menatapi dagangannya, sempat kaget juga ketika saya datang,
"Mau beli tahu Bu ?" tanyanya
"Iya Pak, tolong kasih Rp.10.000,- ya" jawab saya sambil menyerahkan sejumlah uang kepadanya
Dengan bersemangat diambilnya kantung plastik dan mulai membungkus tahu-tahu itu, setelah terbungkus satu plastik penuh saya ambil, saya pikir 1 plastik itu Rp.10.000,- ternyata 1 plastik itu baru Rp.5.000,- jadi saya bilang
"Segini Rp.5.000,- ya Pak, kalau gitu segini aja ya." kata saya sambil berniat ingin buru-buru pergi
"Bu...Kembaliannya..." Katanya
"Gak pa-pa, buat Bapak saja" jawab saya
"Oh..saya gak mau Bu, saya gak mau...saya gak mau kalau seperti itu...tunggu saya cari kembaliannya" katanya sambil merogoh-rogoh sakunya mencari uang kembaliannya. Waahh si Kakek bakalan marah ni kalau saya paksa untuk menerima uang kembalian tadi kepadanya, pikir saya, maka saya bilang
"Ya uda Pak, bungkus aja Rp.5.000,- lagi"
"Ibu benar mau beli lagi atau sudah cukup, kalau kebanyakan kan mubazir Bu" katanya sambil menatap saya
"Iya Pak, bungkus aja Rp.5.000,- lagi, saya baru ingat ada yang pesan juga" jawab saya berbohong, dalam hati saya langsung berdoa 'Ya Allah maafkan saya sudah membohongi Kakek ini'.

"Mau jualan" goda suami saya melihat saya menenteng bungkusan tahu yang super buanyaaak tersebut
"Kasihan aja, tadinya niatnya beli Rp.5.000,- aja, biar kembaliannya untuk Kakek itu, tapi dia ngotot gak mau, ya uda ntar sisanya antar kerumah Mama aja" kata saya
"Ya iya lah dia gak mau, bisa tersinggung dia kalau Adek paksain, dia punya harga diri, kalau dia mau jadi pengemis dia gak bakalan jualan kaya gitu" kata suami saya

Sepanjang jalan pulang kerumah saya termenung memikirkan kata-kata suami saya tadi, suami saya benar, si Kakek pasti gak mau dikasihani, dia akan tersinggung berat  bila saya memaksakan Ia menerima uang kembalian yang gak seberapa jumlahnya itu, bukan masalah jumlahnya, tapi perasaan dikasihani, kalau Ia ingin dikasihani pasti Ia sudah jadi pengemis, ngapain repot-repot jualan dengan resiko tidak laku, tapi Dia punya harga diri, dia merasa dia masih cukup kuat untuk mencari nafkah yang halal tanpa perlu mengemis kesana-kemari mengharapkan belas kasihan orang lain, kuncinya harga diri, harga diri.....


Selasa, 25 Oktober 2011

Andaikan Aku Kaya Raya

Pagi ini sebuah polling disalah satu situs menggugah saya untuk merenung, pertanyaan pada polling tersebut adalah sebagai berikut :
"Bila anda menerima hadiah berupa uang tunai sebesar satu triliun apa yang akan anda lakukan ?
a. Shopping ;
b. Diinvestasikan ;
c. Ditabung ;
d. Disumbangkan ;
e. Semuanya. "

Polling yang sekedar untuk canda-candaan ini membuat saya berkhayal, apa yang akan saya lakukan bila ketiban mangga runtuh *bukan durian karena saya tidak suka durian* berupa uang satu triliun ? Wow..memikirkan ada berapa jumlah nolnya saja saya sudah tergagap-gagap. Jadi ingat dengan lagunya  Oppy Andaresta, "Cuma Khayalan", yang liriknya seperti ini :

Pengen punya mobil mewah
Lengkap dengan AC, Tape dan sopir pribadi
Kemana-mana tinggal minta anter deh
Duduk santai sambil dengerin musik
sama temen-temen gue
Nggak kepanasan lagi uihh dingin…
Pengen punya rumah gedong
Lengkap dengan pelayan,
Perabotan luks plus kolam renang
Mau ini itu tinggal perintah
Hidup serasa di istana
Trus kalo kepanasan
Gue ajak temen-temen gue nyebur deh...basahhh…
Andai a a a a aku jadi orang kaya
Andai a a a a a nggak usah pakai kerja
Pengen punya kapal pesiar
Lengkap dengan pulau pribadi
Yang semua orang nggak boleh masuk
Kecuali yang baik aja sama gue
Gue ajak temen-temen gue
bikin beach party tiap malem
Berenang, bakar ikan, surfing, mancing
Pokoknya yang asyik-asyik dah
Pengen punya uang banyak
Yang depositonya bisa buat tujuh turunan
Jadi gue kan nggak pusing-pusing lagi mikirin duit
Anak, cucu, cicit gue bisa hidup senang terus
Eh, kalo elo elo kekurangan uang
Tinggal telpon gue aja !
Andai ku jadi orang kaya
Andai ku jadi orang kaya

Cukup menggiurkan bukan ? Sebagai emak-emak lirik lagunya Oppy tadi pasti akan saya tambahkan seperti ini, "Pengen sekolahin anak ditempat paling bagus yang ada di dunia ini...pengen beli perhiasan yang mahal-mahal ditoko yang selama ini jangankan untuk masuk ke toko itu sekedar meliriknyapun saya  segan, malu sama dompet...pengen beli baju yang didesign ama Victoria Beckham...pengen...pengen...pengen...dan pengen-pengen lainnya...kepanjangan dah kalau dibahas disini.

Bahagia sekali ya bila bisa seperti itu batin saya, tapi jahatnya sisi batin saya yang lain malah memporak-porandakan khayalan saya tadi, membanting saya dari langit ketujuh kembali menuju dunia nyata dengan pertanyaan "emangnya dirimu bener akan bahagia bila bisa seperti itu ?"...heniiiiiiiing....maka yang terjadi adalah saya merenungi pertanyaan itu sambil mendengar lagu Oppy tadi, benarkah saya akan bahagia, pertanyaan itu berulang-ulang menusuk-nusuk otak saya mencoba menggali ingatan akan definisi dari kata "bahagia".

Bagi saya, rasa bahagia muncul ketika saya melihat anak-anak dan suami saya bahagia, saya bahagia ketika bersama mereka dan saya bahagia ketika saya tau mereka bahagia ketika bersama saya, perasaan dibutuhkan sebagai seorang isteri dan seorang ibu juga membuat saya selalu bahagia. Saya lantas berpikir seperti ini, bila hidup saya sudah menyenangkan seperti lagu Oppy tadi apakah saya masih disayangi dan dibutuhkan oleh keluarga saya, saya yakin jawabannya pasti iya, oleh karenanya saya akan tetap bahagia dunk walaupun saya kaya raya, batin saya senang. Namun sisi batin saya yang lain bertanya seperti ini, apakah setelah kamu kaya raya hidup masih mengajarkan sesuatu kepadamu ? Apakah hidup masih berarti, masih berwarna dan masih bermakna untuk dihargai ?

Saya jadi berpikir seperti ini, ketika saya hanya bisa makan nasi pakai garam tapi saya masih bisa bahagia pastinya saya juga tetap akan bahagia bila saya bisa sarapan pagi dengan omelet ala Hotel Le Parker Meridien Manhattan, omelet termahal didunia karena menggunakan lobster atlantis segar dan caviar selain bahan dasar omelet lainnya, tapi pertanyaan tadi membuat saya berpikir, bila harta saya sudah seperti hartanya paman gober apakah hidup masih menarik untuk dijalani ? Saya jadi ingat bila saya tidak memiliki uang yang cukup sedangkan saya menginginkan suatu barang, maka saya akan jumpalitan menabung agar dapat membeli barang yang saya inginkan itu, ketika jumpalitan menabung itu kesulitan mengajarkan banyak hal kepada saya, perjuangan membuat saya survive menghadapi hidup, pengalaman yang diperoleh dari berjuang menambah ilmu pengetahuan saya dalam memperjuangkan hidup, dan pastinya hasil dari perjuangan itu akan saya nikmati dengan nilai penghargaan tertinggi. Intinya, menurut saya, segala sesuatu yang berhasil saya dapatkan melalui sebuah perjuangan, pastinya, akan saya hargai, semakin berat medan perjuangannya maka akan semakin besar pula penghargaan yang diberikan, benarkah pendapat saya itu ?

Pernah punya pikiran betapa bahagianya menjadi seorang Donald Trump atau, minimal, Ivanka Trump, anaknya pak Donald, godaan untuk bahagia versi miliuner ala lagunya Oppy tadi membuat saya senyum-senyum sendiri, senyum membayangkan fasilitas apa yang nantinya akan saya miliki, senyum membayangkan hal-hal apa yang dapat saya lakukan, dan senyum membayangkan betapa gilanya saya punya mimpi seperti itu hehehe. Tapi saya jadi merenungi lagi, bila mengingat gossip yang beredar, *duuuhh dasar emak-emak tukang gossip*, bukankah mereka-mereka yang kaya raya itu juga kerap tidak bahagia dengan apa yang telah mereka miliki, bahkan ada beberapa yang cenderung bersikap aneh dalam menghadapi hidup, penuh dengan sensasi dan segala hal nyeleneh mewarnai kehidupannya, bahagiakah mereka ?

Salahkah bila saya beranggapan ternyata harta dan tahta bukanlah segala-galanya, harta dan tahta dunia hanyalah kesenangan duniawi yang menipu, bukankah manusia hidup tidak semata-mata hanya untuk mengejar harta dan tahta, kaya tidak selamanya berarti bahagia, bahagia sudah pasti melahirkan kekayaan batin, orang bahagia tidak melulu karena dirinya kaya harta, dan pastinya orang yang kaya harta belum tentu akan selamanya bahagia, yang penting adalah cukup, cukup bahagia dan cukup memahami apa yang sebenarnya kita butuhkan untuk hidup dan menjalani hidup.

Berjuang untuk hidup pastinya akan memberi warna dalam hidup, membuat kita lebih menghargai hidup, karena hidup tanpa perjuangan akan terasa hambar. Kalau saya jadi miliuner mungkin diawal-awal saya akan bahagia, tapi setelah segala sesuatunya dapat saya peroleh dengan mudah, tanpa perjuangan, perlahan-lahan saya yakin akan membosankan juga, hambar, rasanya ada yang kurang bila segala sesuatunya begitu mudah saya raih, mungkin karena bosan saya malah jadi aneh, berprilaku nyeleneh demi mengisi kekosongan batin, bisa jadi saya malah tertantang untuk melanggar hukum demi merasakan lagi makna perjuangan hidup, ini versi saya lho, makanya jangan heran kalau melihat aksi para jutawan yang aneh-aneh, ada yang kleptomania, suka marah-marah gak jelas, dan sebagainya, amit-amit dah.

Maka balik lagi pada polling tadi, kalau ditanya kepada saya, pastinya, jawaban saya adalah tolong cubit saya, bangunkan saya dari mimpi aneh ini, dan bila ternyata itu bukan mimpi, mungkin sebahagian uangnya akan saya ambil buat nutupin utang-utang hehehe baik utang kepada manusia maupun kepada Tuhan, trus sisanya bakalan saya bagi-bagikan buat penggemar setia Celoteh Pippi yang rela membuang percuma waktunya  demi celotehan yang ngawur ini.


 


Rabu, 01 Juni 2011

Lost Sensitivity

Benar kalau banyak yang bilang jaman ini jaman yang edan, dimana manusia-manusianya sudah pada "sakit jiwa", sudah pada apatis dengan sekelilingnya. Nggak salah juga kalau banyak yang bilang dunia ini mau kiamat karena banyak ciri-ciri penghuni neraka mulai unjuk gigi dikehidupan yang semakin semrawut ini. 

Huuuufffff....sedih, gundah, kesal dan kecewa, ini adalah perasaan yang mengawali celotehan saya kali ini. Pengen nangis, pengen marah, pengen teriak rasanya tapi tidak mungkin saya lakukan, yang dapat saya lakukan hanyalah tarik napas yang panjang, mengelus dada, dzikir dalam hati, dan setelah colling down, berceloteh.

Pernahkah anda membaca novelnya Stephenie Morgan Meyer yang berjudul "The Host" ? kalau nggak salah sekitar Juli 2009 diterbitkan, bila belum, segera kunjungi toko-toko buku terdekat. Celotehan saya kali ini sama sekali tidak ingin membahas tentang Stephenie Meyer, sama sekali tidak akan membahas tentang buku tersebut, dan sama sekali tidak hendak bercerita tentang penjualan buku tersebut. Saya hanya berniat membahas tentang kepekaan yang hilang.

Pernahkah anda memperhatikan sekeliling anda, perhatikan makhluk-makhluk yang mengaku manusia dalam bertingkahlaku yang menurutnya manusiawi, perhatikan bagaimana cara mereka menghadapi hidup dan menghargai kehidupan, dan perhatikan bagaimana cara mereka bertingkahlaku dengan makhluk-makhluk hidup dalam kehidupannya. Setelah anda mengamati silahkan kilas balik, bandingkan dengan kehidupan pada masa-masa sebelumnya, perhatikan prilaku sosiologi masyarakat pada era Albert Einstein masih hidup, atau jaman-jaman ketika kakek-nenek kita masih pakai celana pendek, bukan berarti pada jaman-jaman itu tidak ada kejahatan dan minus manusia berhati busuk, pasti ada, bukankah selama turunannya Adam & Hawa masih berkeliaran dimuka bumi ini tentunya akan tetap ada pergulatan-pergulatan manusia melawan hawa nafsunya, dan ketika ia kalah dalam peperangan melawan hawa nafsu maka pastinya kebejatan moral akan muncul dalam kehidupan sosial masyarakat. Tapi bila dicermati lebih lanjut mau tak mau harus diakui bahwa prilaku manusia-manusia jamannya kakek nenek saya kecil masih jauh lebih sopan dibandingkan saat ini.

Silahkan cermati prilaku sosial manusia saat ini, bukankah apatis dan tidak peka merupakan prilaku unggul yang selalu ditunjukkan saat ini ? Bukankah trend yang berkembang saat ini adalah "cuek lambang pergaulan, sebodo amat motto hidup saya", Hhhuuuuuuffffffffff.....sesak dada ini rasanya melihat tingkah laku manusia yang hanya mementingkan dirinya sendiri & sangat menyakitkan berada pada posisi seseorang yang kepentingannya selalu terabaikan.

Contoh paling mudah untuk dilihat, silahkan amati lalu lintas, betapa sepertinya semua kendaraan bermotor sekarang ini tidak lagi memiliki pedal rem, seakan-akan rem diciptakan hanya untuk digunakan dalam keadaan terdesak si pengemudinya saja, sebodo amat dengan keadaan terdesak orang lain, hasilnya, lampu merah diterobos, hak pengguna jalan dilanggar, bahkan kesempatan pengguna jalan untuk menyeberang jalanpun enggan diberikan, seakan-akan punya saham atas kepemilikan jalan raya, tancap gas dan pencet klakson seenak udelnya adalah hak veto yang ia miliki tanpa mau peduli dengan hak orang lain.

Hari ini saya mangkel, jengkel, kesel dengan keadaan, sebel karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk hal yang sebenarnya salah tapi sudah lama dianggap sebagai kebiasaan yang benar. Kalaulah boleh dan sopan untuk saya menunjuk-nunjuk dan mencaci-maki pasti akan saya lakukan, tapi seperti biasa kata-kata suami yang selalu menyejukkan membuat saya untuk berpikir bahwa Alhamdulillah Allah memberikan kematangan otak yang sempurna kepada saya untuk menyaring apa yang benar dan salah yang selanjutnya akan diekspresikan tubuh saya bagi orang lain sehingga saya tidak perlu terjerumus menjadi orang-orang tolol yang hidup dalam kekufuran.

Apapun gejala-gejala dini orang yang akan dihinggapi stroke menurut ilmu kedokteran, tapi bagi saya bila kepekaan seseorang terhadap makhluk lainnya sudah hilang, beware, tidak lama lagi pasti stroke akan menyapa anda. Saya yakin kita semua sepakat bila manusia tidak bisa hidup tanpa manusia yang lainnya, dan saya yakin semua orang tidak ada yang ingin hidup sendiri didunia ini. Tapi mengapa ego selalu dikedepankan demi kepentingan diri sendiri, mengapa tega menindas orang lain hanya agar kepuasan dirinya terpenuhi tanpa menghargai perasaan orang lain. Kita hidup untuk bermasyarakat, tentunya agar dapat menjalin hubungan kemasyarakatan yang baik kita harus dapat sedikit *gak minta banyak, hanya sedikit* menekan ego kita.

Saya maklum bila kehidupan manusia itu tidak terlepas dari nafsu, tapi saya akan sangat menghargai bila ada orang yang mampu menahan hawa nafsunya demi kebahagian orang lain, demi berjalannya mata rantai kehidupan. Hidup tanpa nafsu jelas bukan hidup namanya, tapi hidup hanya demi memuaskan nafsu sudah pasti hanya akan membawa kita pada masalah, apalagi dengan mengorbankan orang lain demi memuaskan hawa nafsu.

Saya rindu dengan suasana ketika masih kecil dulu, dimana manusia masih ada harganya di mata manusia yang lainnya, dimana kepedulian antar sesama masih mewarnai kehidupan bermasyarakat. Tidak dipungkiri sejak Adam dan Hawa turun ke Bumi pergulatan antara manusia dan nafsunya selalu mewarnai kehidupan, tapi harus diakui semakin modern manusianya maka akan semakin terpuruk ia dalam kekufuran bila ia tidak dapat mengendalikan nafsunya.

Balik lagi ke novelnya Stephenie Morgan Meyer yang berjudul "The Host" saya tidak akan menyalahkan  gerombolan alien yang ingin merubah bumi, mungkin bila kelak mereka datang saya adalah orang yang berdiri dibarisan paling depan dengan spanduk yang bertuliskan "welcome in our hell, save the world please" tapi saya juga akan request agar orang-orang yang telah benar jalan hidupnya tidak diparistisme lagi, cukup mereka-mereka yang berakhlak bobrok dan bermoral lumpur saja.

Saya kangen dengan suasana seperti dalam gambar-gambar buku Pendidikan Moral Pancasila ketika saya SD dulu, saya rindu dengan kehadiran keluarga Budi, Ima & dan Iwan dalam pelajaran Bahasa Indonesia.  Kangen dan rindu saya tidak semata pada visualisasi dari kedua buku pelajaran ketika saya SD tersebut, melainkan suasana yang melatar belakangi kehidupan saya dikala itu. Saat itu adalah saat-saat dimana maling masuk rumah pada malam hari dan menghilang sebelum yang punya rumah bangun, tidak seperti maling saat ini yang sengaja bangunin pemilik rumah untuk minta ditunjukkan dimana sang pemilik rumah menyimpan barang-barang berharganya dan setelah niatnya tercapai maka si maling yang tidak sopan tadi tidak akan segan membunuh pemilik rumah untuk menghilangkan jejak, agar tidak ada saksi yang dapat menguatkan pembuktian atas perbuatannya dimuka hukum, E D A N.

Apakah *maaf cakap* kebiadaban moral ini akan terus berlanjut ? Akankah masa-masa sopan seperti dulu akan kembali lagi ? Entahlah, tapi yang pasti *menurut saya* bila kita tidak nyaman dengan keadaan saat ini, *pastinya* kita tidak akan bisa mengubah keadaan bila kita tidak memulainya dari diri kita sendiri. Konyol rasanya bila kita ingin dihargai tapi kita sendiri tidak dapat menghargai atau bahkan menunjukkan sikap yang tidak patut untuk dihargai, maka bila saya ingin kehidupan sosial saya berjalan dengan baik maka saya akan berupaya untuk membenahi dulu kepribadian saya, banyak- banyak bercermin agar saya dapat melihat semua cacat tubuh yang saya miliki, berupaya mengenal dan membina hubungan yang baik dengan kepribadian saya agar saya dapat membina hubungan baik dengan orang lain, dan pastinya belajar mendengar dan memahami diri saya agar kelak saya dapat memahami  keinginan orang lain.



Selasa, 08 Februari 2011

Bila Saatnya Tiba

Tidak percaya adalah reaksi pertama saya ketika mendengar berita tentang telah berpulangnya seorang politikus yang dulu juga pernah mewarnai panggung hiburan tanah air dalam usia relatif muda (43 th), dari tayangan televisi saya lihat banyak kerabat, sahabat dan rekan sejawatnya yang, juga seperti saya, tidak percaya bahwa beliau telah kembali kepelukan sang Rabb, mengingat selama ini beliau tidak pernah diberitakan sakit dan beberapa jam sebelum kepergiannya masih terlihat dalam kondisi yang sangat sehat.

Langkah..Rezeki..Pertemuan..Maut..adalah rahasia sang Khaliq yang harus kita lakoni dalam kehidupan yang fana ini tanpa pernah tahu kapan dan bagaimana terjadinya. Banyak yang berusaha menyingkap tabir misteri ini dan banyak pula yang mendatangi mereka-mereka yang dianggap mampu untuk memprediksinya, umumnya tujuan mereka mencari jawaban adalah karena rasa iseng, penasaran atau bahkan ada yang beralasan ingin mendapat sedikit pencerahan / arah hidup (?). Namun tak seorangpun makhluk ciptaan-Nya yang dapat membongkar misteri Illahi ini dengan tepat dan jitu karena itu adalah hak prerogatif  Tuhan.

Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan mati, bila waktunya tiba tak satupun yang dapat menghindar atau lari. Saya yakin setiap orang pasti percaya bahwa semua makhlup hidup akan mati, saya mengerti bila banyak orang yang berharap malaikat maut menjemputnya bila ia telah uzur, telah lanjut usia, dan telah puas menikmati semua pahit manisnya kehidupan, saya maklum bila setelah membaca renungan ini anda berdoa untuk dipanjangkan umur.

Banyak yang berpendapat kematian adalah musibah yang sifatnya mendadak, tak seorangpun ingat bahwa bukankah sebelumnya kita telah berjanji dengan Sang Pemilik Waktu bahwa pada hari, tanggal, bulan, tahun dan jam yang telah disepakati kita akan kembali menghadap-Nya. Banyak diantara kita yang percaya bahwa semua langkah, rezeki, pertemuan, jodoh dan maut telah tertulis dan disepakati antara Sang Pencipta dengan yang diciptakan sejak ciptaannya itu belum ditiupkan roh kehidupan, tapi mengapa banyak orang yang tidak siap menghadapinya, mengapa banyak orang yang tidak senang membahas tentang kenyataan bahwa ketika ia menghirup satu helaan nafas maka berarti semakin berkuranglah jatah hidupnya di muka bumi ini dan berarti detik-detik menuju kematian semakin dekat.

Pernahkah anda merenungkan bagaimana kondisi kita bila saatnya tiba, ketika tubuh tidak dapat lagi digerakkan, ketika oksigen tidak dapat lagi masuk memenuhi rongga paru-paru kita, ketika tubuh kita mengenakan kain kafan, dimasukkan dalam keranda / peti mati dan ketika tubuh kita dikuburkan didalam tanah. Sebagaimana ketika diciptakan dulu kita merupakan individu yang berdiri sendiri maka ketika meninggalpun kita sendiri menghadap Sang Khaliq, tak ada bodyguard yang dapat menemani kita, tak ada kemewahan duniawi yang bisa kita bawa, bahkan saya yakin walaupun ada orang-orang yang sangat mencintai kita sepenuh hati, jiwa dan raganya sampai-sampai ingin loncat ke liang kubur ketika kita dikebumikan, tapi saya mengerti bila kemudian dia emoh untuk menemani kita didalam kubur dan membantu kita dalam mempertanggungjawabkan perbuatan kita ketika kita masih hidup. Maka bila hidup didunia hanya untuk memuaskan hawa nafsu sesungguhnya akan merugi karena cuma amalan-amalan baik sajalah yang menjadi tiket kita menuju kehidupan yang lebih mulia di alam sesudahnya.

Ketika saat itu tiba orang-orang yang menyayangi kita menangisi kepergian kita, menangisi kenangan-kenangan yang telah kita berikan kepada mereka atau kita buat bersama mereka, menyesali kata-kata atau perbuatan yang tidak sempat kita atau mereka ucapkan / lakukan. Setelah kita tiada mungkin benda-benda kenangan yang mengingatkan akan kita masih sering dilihat, kuburan kita masih rajin dikunjungi, namun dengan berjalannya waktu, ketika rasa sedih dan rasa kehilangan telah berhasil diatasi kita pun mulai dilupakan, kuburan kita mungkin hanya dikunjungi menjelang puasa dan lebaran saja, bahkan tidak dikunjungi sama sekali oleh generasi-generasi berikutnya. Syukur-syukur kalau semasa hidup kita pernah melakukan suatu hal baik bagi nusa dan bangsa sehingga setiap 17 Agustusan dan 10 Novemberan nama dan kuburan kita mulai diingat lagi, lebih syukur lagi kalau kita pernah melakukan perbuatan terpuji sehingga nama kita layak untuk digunakan sebagai nama jalan sehingga sampai kapanpun orang masih menyebut-nyebut nama kita, sampai dengan nama jalan itu diganti, tapi yang paling penting dari semua itu, menurut saya, bukanlah mengenai betapa dikenangnya kita setelah kita mati, tapi bagaimana kehidupan kita sesudah mati.

Saya adalah salah seorang yang paling meyakini bahwa kehidupan yang saat ini tengah saya jalani hanyalah kehidupan sementara, kehidupan fana, kehidupan untuk mempersiapkan kehidupan yang sebenarnya. Saya percaya bahwa apa yang telah saya lakukan dikehidupan saat ini akan berdampak pada bagaimana saya jadinya di kehidupan selanjutnya. Maka saya mencoba untuk mempersiapkan bekal yang bisa saya bawa kesana, saya berusaha menabung pundi-pundi amalan agar kelak dapat membeli tiket yang dapat membawa saya ketempat yang layak, dan saya bersungguh-sungguh menjaga prilaku saya saat ini agar kelak saya bisa hidup tenang dan nyaman dialam kehidupan yang lebih mulia.

Saya tidak takut mati, saya tidak takut akan kematian, tapi saya belum siap mempersiapkan diri menuju kematian, amalan saya masih minus, utang-utang saya kepada Tuhan belum tertutupi, prilaku saya kepada sesama belum ada bagus-bagusnya, sehingga boro-boro nama saya digunakan sebagai nama jalan, untuk datang menangisi kepergian saya saja mereka enggan, mungkin mereka malah tertawa bahagia ketika saya mati dan berucap "Alhamdulillah ya Allah akhirnya Engkau angkut juga sampah masyarakat ini, semoga bumi dapat kembali tenang..".

Saya ingin ketika saya dijemput oleh maut saya berada dalam kondisi keimanan yang sempurna, amalan saya berada dipuncak amalan tertinggi dan rekening ibadah saya telah cukup untuk membeli kendaraan terbaik yang dapat membawa saya kekehidupan yang lebih baik. Saya ingin ketika saya pergi mereka-mereka yang saya tinggalkan juga telah siap menghadapi kematian mereka, siap dengan amalan-amalan terbaik yang diharapkan-Nya, dan siap menerima kepergian saya dengan ikhlas. Bila saatnya tiba saya ingin bumi dan langit mengampuni serta menerima saya, saya ingin semua kesalahan saya telah dimaafkan Tuhan dan makhluk ciptaan-Nya, saya ingin pergi dalam keadaan suci tak bernoda dan saya ingin mereka-mereka mengenang saya dengan segala kebaikan saya bukan keburukan saya. Oleh karena itu mulai saat ini saya bertekad untuk hidup dengan baik demi kehidupan yang lebih baik kelak.

Melihat prosesi penguburan politikus yang saya ceritakan tadi diatas melalui televisi, saya berpikir mencoba mengingat-ingat lagi janji saya kepada-Nya, saya berharap kapanpun janji itu tiba saya berada dalam keadaan Husnul Khotimah bukan Su'ul Khotimah, saya berdoa semoga kata-kata terakhir yang saya ucapkan adalah kalimah-kalimah toyyibah, dan saya berharap ketika malaikat maut datang tiket VIP menuju surga telah saya genggam dan saya menyambut kedatangan maut dengan tubuh yang bersih, rupa yang manis, pakaian yang indah dan berada ditempat yang layak, Amien Ya Rabbal Al-Amien.

Rabu, 26 Januari 2011

Dicintai atau Ditakuti

"...Since love and fear cannot exist together, if we must choose between them, it is far safer to be feared than loved..."
Machiavelli, The Prince.


Terjemahannya kurang lebih seperti ini, karena rasa cinta dan rasa takut tidak dapat ada secara bersamaan, maka jika kita harus memilih diantara keduanya, lebih aman bila kita merasa ditakuti dari pada dicintai....
Andaikan disuruh memilih, mana yang akan anda pilih, dicintai atau ditakuti ?
Mungkin sebagian dari anda semua berpikir lha koq jadinya kaya preman ditakuti, enakan dicintai deh. Ok...itu terserah anda untuk berpendapat, tapi kalau dikaji-kaji lebih dalam makna dibalik kata-kata Machiavelli, sepertinya saya lebih memilih untuk ditakuti saja ketimbang dicintai.
Secara kasat mata dicintai pastinya berkonotasikan hal-hal positif, perasaan diperhatikan, disayangi dan dihargai menjadikan seseorang merasa sebagai makhluk paling bahagia dan beruntung di muka bumi ini. Sedangkan menjadi orang yang ditakuti menimbulkan kesan seolah-olah yang bersangkutan adalah seorang monster yang paling berbahaya dan harus dijauhi agar bumi selamat dari ancaman kepunahan.
Mungkin menurut anda dicintai berarti kita telah memberikan banyak apresiasi-apresiasi baik untuk orang yang mencintai kita, sedangkan orang menjadi ditakuti karena telah memberikan konstribusi-konstribusi buruk kepada orang lain, mungkin pendapat ini benar, tapi bukannya tidak mungkin kalau pendapat ini ada salahnya juga, bukankah manusia tidak sempurna, bukankah tidak selamanya kita mampu berdiri dijalur yang lurus dan benar, dan bukankah sebagai manusia kita juga berhak memilih dan melakukan apa yang benar dan salah untuk diri kita.
Sebutan dicintai dan ditakuti ini sebenarnya timbul akibat dari akar pikiran (seseorang terhadap orang lain) yang berkembang menjadi cabang perasaan dan membuahkan sikap mental yang dipicu dari pola tingkah laku si orang tadi (selanjutnya disebut objek), tapi harus kita selidiki apakah perasaan itu timbul benar akibat perbuatan sang objek yang memang layak untuk di-cinta/takut-i ataukah hanya perasaan atas kesimpulan yang salah dari si subjek.
Harus diakui manusia memiliki tipe-tipe mental tertentu yang membuat ia mudah untuk memprovokasi atau diprovokasi, jadi sebelum merasa yakin apakah benar si objek tepat untuk di-cinta/takut-i silahkan mereview lagi ke dalam hati masing-masing, apakah perasaan itu timbul hanya karena faktor provokasi tadi. Sebagai contoh, saat ini pengaruh media elektronik sangat menunjang pencitraan diri terhadap seorang artis X(misalnya), banyaknya tayangan-tayangan infotaiment di televisi yang mengupas habis kehidupan selebritis tersebut secara berlebihan, atau lebay istilahnya anak alay, membuat penonton dibiaskan antara yang real dan unreality, hantaman pemberitaan yang bertubi-tubi kepada penonton terhadap X membuat penonton merasa seakan-akan mereka adalah kerabat terdekat dari si X tadi karena paling mengetahui hal-hal privacy dari X sehingga seakan-akan membenarkan perbuatan awak media elektronik untuk melakukan penilaian terhadap X tanpa mempedulikan hak X untuk menceritakan hal sebenarnya dibalik perbuatannya, pada fase ini penonton mulai diprovokasi dengan pemberitaan akan X, selanjutnya pikiran penonton mulai dikembangkan kearah perasaan untuk membenci atau menyukai artis X tadi, pada tahap selanjutnya apabila awak media elektronik berhasil mengungkapkan 1 saja bukti perbuatan X maka penonton berhasil diarahkan untuk mencintai / menakuti si X tadi, pada tahap ini provokasi telah berhasil dilaksanakan, setelah itu stigma yang melekat terhadap X akan berlanjut sampai dengan adanya perbuatan kontra dari X.
Kalau boleh menilik ulang, perasaan dicintai membebankan objek untuk selalu bersikap sebagaimana yang diharapkan si subjek, pastinya subjek akan kecewa bila objeknya tidak bertingkahlaku sebagaimana yang ia pikirkan. Sedangkan terhadap objek yang ditakuti tidak membebankan sang objek untuk terus-menerus memberikan rasa takut, positifnya bila si objek yang ditakuti menunjukkan / bersikap baik pastinya orang yang merasa takut akan surprise, dan sebagaimana umumnya sifat manusia yang paling gampang melupakan perasaan-perasaan tidak enak seperti sakit, takut, dsb tentunya hal ini akan memutarbalikkan stigma dari ditakuti menjadi dicintai dan atau disegani. Namun terhadap orang yang dicintai, apabila si objek melakukan 1 saja perbuatan negatif maka status dicintai tidak mutlak berubah menjadi objek yang ditakuti tapi sudah pasti berubah menjadi yang dibenci, timbul pertanyaan lagi apakah dibenci sama artinya dengan ditakuti, mana yang lebih enak dibenci atau ditakuti, bila membaca kamus besar bahasa Indonesia arti benci dan takut jelas berbeda, menurut saya lebih bagus ditakuti daripada dibenci (pembahasan tentang ditakuti dan dibenci akan kita bahas dalam kesempatan lain). 
Tapi dibalik itu semua, pesan yang saya tangkap dari kata-katanya Machiavelli diawal adalah, dicintai menimbulkan kewajiban untuk mencintai orang yang telah dengan suka rela mencintai kita, sedangkan ditakuti tidak menimbulkan kewajiban untuk menakuti orang yang merasa takut akan kita, dan oleh karenanya menurut saya lebih sulit mempertahankan status dicintai ketimbang ditakuti, seseorang yang telah terbiasa hidup dengan label dicintai tentunya akan sangat shock bila kelak labelnya itu direnggut secara paksa dari dirinya, namun sebaliknya orang yang terbiasa dengan gelar ditakuti tentunya tidak akan susah bila gelar tersebut dicopot dari dirinya. So...mungkin suatu saat di nisan saya akan ada tulisan seperti ini :

RIP
Sylvia Shinta
"Orang yang sangat ingin ditakuti sepanjang hidup dan matinya"